Thursday, 21 January 2016

Road to Volunteering Festival Jenang Solo 2016

14 - 17 Februari 2016
Festival Jenang Solo
Sebuah festival yang bertema kan makanan khas Indonesia yang berupa jenang.
Ada sebuah pelajaran yang bisa saya ambil dari pengerjaan buku festival jenang solo bersama seorang bernama Bapak Agung
Saat saya diberi tugas untuk mewawancarai seorang ibu yang berjualan jenang dan begini ceritanya..

       Saat mentari belum nampak dari ufuk timur
dan saat kita masi terlelap dalam ranjang
Seorang Ibu yang kuat ini sudah menjaga tungku apinya tetap menyala, Ibu Sukiyem namanya seorang paruh baya, Dini hari tangannya sudah berlumuran tepung, meracik bahan-bahan yang ada, mengolah nya menjadi sebuah makanan yang semua kalangan bisa menikmati makanan ini.
       Jenang Solo, satu makanan yang mungkin banyak orang bilang adalah makanan kampung, iya ini memang makanan kampung, makanan yang sudah jaman dahulu kala sudah ada, dan jangan salah makanan ini selalu digemari orang dari masa ke masa. Karena makanan dan semangat ibu inilah yang membuat ibu Sukiyem bertahan dari terpaan kekejaman dunia ini.
       Bayangkan ibu Sukiyem ini memikul keranjang berisi bermacam-macam jenang penuh dalam panci-panci entah berapa kilogram beratnya, tapi seolah senyum ibu ini tak pernah habis ketika pembeli datang menghampirinya, setiap hari meneriakan dengan suara yang terdengar sopan ditelinga "jenang e mbak, jenange nggih nopo mboten mas?" Sampe matahari tepat diatas kepala kami, ibu ini tetap berjalan mengelilingi dua kelurahan di kota solo ini.
       Sudah belasan tahun ibu Sukiyem sudah menjalani hal yang bagi dia adalah sesuatu yang menyenangkan dari profesi ini, jangan diremehkan ibu Sukiyem ia mampu membuat anaknya mengenyam pendidikan, sedangkan suaminya? terbaring sakit karena stroke yang dideritanya selama bertahun-tahun juga. Saat aku bertanya "Mengapa ibu terus semangat, padahal hal ini sangat melelahkan?" Ibu Sukiyem menjawab dengan senyum lebar nya "Nek kulo mandek semangat e, urip iki nggih mandek mas" bahwa kalo ia berhenti dan tidak punya semangat lagi hidup ini juga bakal berhenti.


Terima kasih.
Terima kasih telah mengajarkan kami para anak muda untuk selalu bersyukur atas kehidupan kami,
Kehidupan yang kami kira... sudah sangaaaaaat berat, padahal kehidupan kami hanya berkutat pada kegalauan anak muda jaman sekarang, karena ditinggal tambatan hati.
Kehidupan kami anak muda yang sudah merasa berusaha keras meminta atau mencari uang hanya demi kami bisa makan ditempat yang mahal, agar kami diagungkan oleh banyak teman kami dan agar kami di sematkan tanda penghormatan menjadi anak uptodate masa kini.
Kehidupan anak muda yang menuruti egosentris demi kemashyuran nama kami sendiri di sosial media kami.
Terima kasih ibu penjual jenang, ingatkan setiap kami agar selalu memandang bahwa kehidupan ini bukan untuk ego kami tapi untuk orang lain.
 -Anak muda sejati adalah anak muda yang berhasil melawan arus dunia, melawan arus yang membawa kita kearah egosentrisme dan pemujaan terhadap diri kami sendiri-











Photo by : Arga Panuntun

Monday, 18 January 2016

Introduction

Volunteer ..
"tak dibayar, buang waktu, orang-orang bodoh yg kerja ngga dibayar"

itulah yang biasa kita dengar dari beberapa orang yang mengomentari tentang volunteer, tanpa mereka tau makna setiap hati para volunteer yang melakukan pekerjaan nya "tanpa dibayar"

Bangun tidur - kerja - pulang kerja - tidur lagi - kerja lagi
"rutinitas" , apakah itu yang akan manusia lakukan sampai akhir hidupnya?
Think again...
diakhir hidup seseorang apakah yang akan kita hasilkan? kesuksesan?
Sukses yang bagaimana?
-Rumah banyak -mobil banyak -tabungan berlimpah?


     Hidup kita diberi passion yang itu tentunya sudah diberikan Tuhan pada kita, membuat hidup ini lebih bermakna, suatu kesia-siaan semata jika hidupmu ada dalam rutinitas dan semua hanya condong ke dalam ego kita sesaat. Kita percaya hidup ini hanya sekali, dan kita terjebak seperti robot yang berjalan hanya dengan sistem dunia yang sudah merasuki otak kita.
      Teman-teman saatnya kita lihat disekitar kita, bagaimana terlihat ketimpangan sosial yang terjadi, banyak ketidakadilan terjadi di sekitar kita, banyak yang harus diperbaiki dalam dunia ini. Jadilah "Volunteer" dimana pun kita berada sebelum terlambat, satu hal kecil yang mengubah sesuatu.
Jika kalian seorang remaja, kalian sekolah atau kuliah sekarang,  jadilah seseorang yang berpengaruh disana, ajak teman-teman kalian untuk menjadi agen-agen perubahan disekolah maupun ditempat kuliah. Ini sangat mudah, bagaimana kalian mengajak satu teman kalian untuk membuang sampah ditempat sampah, itu adalah volunteer atau bahkan dengan organisasi kalian menyuarakan tentang kebersihan atau pelestarian budaya di kota kalian dan tentunya dengan organisasi kalian bisa menjangkau lebih luas lagi.
       Ketika kita sudah terlanjur terjebak dalam rutinitas coba berpikir sekali lagi, bagaimana pun hidup kita harus jadi bermakna dan menghasilkan sesuatu dan tentunya kesampingkan ego diri kita.

Hiduplah sekali untuk bermakna, karena hidup itu berkarya

GAP